Prologue

Foto saya
Denpasar, Bali, Indonesia
..simple.. ..casual.. ..lilbittomboy.. ..stubborn.. ..caring.. ..sensitive.. ..love'sreading.. ..enjoy'ssightseeing.. ..like's shopping.. :)

Pengikut

didi's.whitechocolate
"Twenty one years of living, and I could never feel less greatful for being born as a girl.."
_dianxoxo_


Perempuan.

Mereka adalah makhluk yang konon paling susah dimengerti.
Mereka sering terlihat lemah, dan sering memanfaatkan emansipasi perempuan untuk berlindung dari apapun yang menakutkan dan mengancam mereka.
Namun mereka makhluk yang paling kuat berburu diskon, sale, ataupun new arrivals, dan lebih kuat lagi karena mereka sanggup bolak-balik fitting room untuk mencoba-coba baju yang bahkan belum tentu akan mereka beli.
Mereka bisa berdiri dengan sangat tegak di atas kaki sendiri.
Namun mengeluarkan seluruh manja dan sifat kekanak-kanakannya untuk mendapatkan semua perhatian cowoknya.
Mereka paling tahu, which angle is their best angle for taking pictures of themselves.
Dan mereka berfoto dengan angle yang sama itu terus-menerus, hanya berbeda baju, rambut, dan latar belakang.
Mereka sibuk menghitung berat badan ideal (yang sebenarnya jauuh di bawah ideal).
Dan mereka menjadikan timbangan berat badan sebagai sahabat sekaligus musuh mereka.
Mereka sebenarnya suka makan.
Tapi begitu makan, mereka akan menghabiskan makanan dengan pelaaan sekali, waktu seperti berputar sangat lama kalau menunggu mereka menghabiskan makanan.
Dan pada akhirnya mereka tidak menghabiskannya, padahal sebenarnya mereka bisa.
Perempuan paling susah ditebak maunya apa.

Tapi kami, perempuan, punya satu rahasia yang sebenarnya mengungkapkan alasan dibalik semua keanehan kami itu.
Dikutip dari film "PS: I Love You", tokoh utama dari film tersebut, seorang wanita, menyebutkan satu sacred secret tentang perempuan:
"We (girls - RED), have absolutely no idea what we want!"

Tapi perempuan juga bisa menjadi makhluk yang berbahaya pada satu saat tertentu, yaitu saat kami gila,, saat kami tergila-gila..
Seperti judul posting kali ini: When we, girls, get mad ... about you, boys!

Terlepas dari keanehan-keanehan kami yang tertulis di atas, kami sangat tahu apa yang terjadi pada kami saat kami ... jatuh cintrong!

Kami berbahaya, karena saat kami jatuh cinta, kami:
1. Hanya melihat kamu. Ya, hanya kamu!
bahayanya: sebegitu besarnya kamu menutupi pandangan kami, kami tidak bisa hal lain yang mgkn lbih penting dan mendesak dibanding kamu.
2. Bisa takikardi bahkan hanya karena dilihat olehmu.
bahayanya: tanda pertama gangguan kardiovaskular.
3. Seharian bisa memutar lagu-lagu dengan tema: love song.
bahayanya: selera musik bisa saru! Okelah kalau Taylor Swift, Afgan, Glenn Fredly. Tapi kalau yang terngiang-ngiang ST 12?? Armada???
4. Tersenyum. Pada siapapun, kapanpun.
bahayanya: tersenyum selalu baik. Tapi tersenyum sepanjang waktu itu mengkhawatirkan!
5. Tiba-tiba lebih memperhatikan penampilan. Baju, rambut, wewangian, semuanya!!
bahayanya: inilah penyebab utama uang bulanan habis sebelum waktunya.. -.-"
6. Selalu ingin mendengar suaramu.
bahayanya: autis.
7. Selalu ingin berada di sebelahmu.
bahayanya: autis.
8. Selalu ingin menghirup wangi parfummu, bahkan serasa bisa tidur saking nyamannya.
bahayanya: autis!!!

Tapi, yang paling berbahaya adalah kenyataan bahwa kami, kalau sedang jatuh cinta, bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikir akan kami lakukan sebelumnya. Kami bisa menghabiskan waktu, tenaga, biaya, pikiran, dan mengesampingkan hal-hal lain untuk melakukan apapun itu. Dan saat kami tergila-gila, kami menjadi beneran gila, karena terlepas dari semua yang harus kami korbankan dan kesampingkan itu, kami sama sekali tidak menyesal melakukannya!!
:)

Kalau ada yang terus mengeluhkan soal perempuan yang serba rumit dan tidak bisa dipahami, kami tidak menyalahkan orang itu. Kami menghargai sepenuhnya pendapat seseorang tentang kami, sebagaimana kami juga berharap kami dihargai sepenuhnya oleh orang itu.
Kami adalah perempuan, dengan segala keunikannya. Dengan segala rahasianya. Dengan segala kekuatannya. Kami senang menjadi diri kami sekarang.

I love myself. I love you. :)
xoxo
didi's.whitechocolate
Kamis, 28 Oktober 2010..
Pagi itu aku terbangun agak kesiangan, dengan televisi yang ternyata masih menyala namun bersuara nyaris hening. Sekadar info, belakangan ini, aku memang beberapa kali memberlakukan kebiasaan (amat sangat) buruk itu, sekadar untuk memecah sedikit kesunyian malam. Karena belakangan ini pula, kesunyian malam justru membuatku takut.

Well, kembali ke pagi itu,, aku terbangun dan mendengar sayup2 di televisi pengucapan sumpah sakral 28 Oktober 2010 di Metro TV. Iklan, memang, tapi kata-kata itu sangat jelas terucap. Kata-kata yang sangat familiar, sejak pertama kali mengenal ikrar Sumpah Pemuda, pada jaman masih berseragam putih-merah dulu.

Benar juga, sudah tiba ternyata peringatan 82 tahun Sumpah Pemuda. Aku sebenarnya sudah jengah akan dekatnya Sumpah Pemuda sejak tanggal 20 Oktober lalu, namun persiapan dan pengerjaan Student Project bertajuk "Onychomycosis" itu sukses mengalihkan nyaris seluruh perhatianku. Syukurlah, hasil SP itu tidak mengecewakan.

Aku menikmati sejenak iklan peringatan Sumpah Pemuda itu sejenak, saat sepersekian detik kemudian akal sehat mengingatkanku bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 06.50 dan aku harus segera bersiap2 untuk kuliah pukul 08.00. Televisi praktis tidak kuindahkan, dan dengan sangat kepupungan bersiap2. Boo nggak suka kalau aku terlambat..

Metro Pagi masih mengiringi persiapanku berangkat kuliah tadi. Segmen kali ini adalah wawancara dengan bintang tamu. Ahh,, rupanya tajuk hari itu adalah "Yang Muda Yang Berkarya". Bintang tamunya pun tidak sembarangan. Tidak semuanya kukenal bahkan dengan nama, tapi melongo aku dibuatnya saat mengetahui sepak terjang mereka.
Ada yang menjadi ketua tim pendakian ke tujuh puncak tertinggi di dunia untuk mengibarkan bendera Merah-Putih, 7Summit..
Ada perwakilan PLN yang menyampaikan program pemasangan saluran-saluran listrik baru se-Indonesia..

Di hari sebelumnya, saat Just Alvin kebetulan bisa kukejar tayangnya, muncul sejumlah tokoh ternama perwakilan Indonesia. Rieke Dyah Pitaloka, anggota DPR, bicara tentang posisinya dan bagaimana lika-liku kerjanya sebagai wakil rakyat dan sebagai penyalur buku-buku ke pelosok-pelosok Indonesia. Glenn Fredly, penyanyi favoritku (^^), bicara tentang makna lebih dari sebuah badge garuda yang disematkan di pakaiannya. Ada pula seorang tokoh lain (lupa namanya! T_T), wanita mantan penyiar berita di Metro TV yang kini menjadi anggota DPRD Jakarta.

Kelebatan2 prestasi mereka entah bagaimana mengusik pikiranku selama bersiap2 tadi pagi itu. Satu seruan yang menggelikan dan pilu: "Astaga, aku sudah 21 tahun, dan aku belum bisa melakukan sesuatu yang membanggakan!"


"Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu,
Tanah Air Indonesia..
Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu,
Bangsa Indonesia..
Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan,
Bahasa Indonesia.."
Kata2nya maut ya..
Siapa sangka, putusan kongres pertemuan kelompok-kelompok pemuda daerah memutuskan sebuah bait yang maknanya begitu kuat.
Kalau aku mengingat headline di berita-berita nasional pada tanggal 20 Oktober lalu, mengenai demonstrasi besar-besaran mahasiswa terhadap 1 tahun bergulirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, rasanya miris banget melihat sikap para demonstran tersebut. Rusuh. Hanya itu kata yang terpikir olehku.

Tanpa bermaksud menyudutkan siapapun yang menjadi aktivis demonstran tersebut, mau tidak mau aku terpikir kenapa mereka sedemikian antusias menggelar aksi-aksi semacam itu. Jika ada yang mengajakku berdemonstrasi pada hari itu, aku sudah pasti menolak dengan sopan dengan alasan harus membuat tugas kampus (dan itu benar, SP!!). Di 15 kota besar di Indonesia (termasuk Denpasar katanya), mahasiswa menggelar unjuk rasa menuntut ini, itu, turunkan ini, itu, menuntut lengsernya si ini, si itu. Mereka bicara kemisikinan, penegakan hukum yang gagal total, stabilitas ekonomi yang sama sekali tidak stabil, penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang tidak kunjung selesai, dan segala macam lainnya.

Hmm,, kalau seperti itu yang menjadi tajuk mereka, aku pasti tidak bisa ikut. Kemiskinan? Dengan segala kerendahan hati, pantaskah aku bicara kemiskinan jika kemiskinan yang sebenarnya itu belum pernah kekecap..?
Penegakan hukum? Apa mampuku bicara hukum jika dasar-dasar hukum itu sendiri bukan dasar pendidikanku?
Stabilitas ekonomi? Latar belakangku selama tiga tahun ini adalah kedokteran dan kesehatan..
Pelanggaran HAM??? Posisiku tidak pantas bicara tentang HAM. Aku tidak pernah bisa mengerti perasaan para korban pelanggaran HAM.
Tapi mereka tampak menggebu-gebu sekali.
Bagai merasakan sendiri semua yang mereka ucapkan itu.
Sungguhkah..?

Kalau seperti ini tingkah polah tipikal kami, Pemuda-pemudi masa kini, masihkah pantas kami bicara tentang Sumpah Pemuda??
Terprovokasi hanya dengan sentilan semu..
Tercemari hanya karena menangkap dengan satu-dua indra saja, tanpa melibatkan akal dan rasa..
Terlukai oleh sesama..

Kembali ke pernyataan pilu yang berngiang-ngiang pagi itu, aku menuliskan satu status singkat di jejaring FB, dan mendapat respon dari seorang teman jauh.
Kataku: "Halo Pemuda.. Apa kabarmu hari ini? Apa yang sdh kamu perbuat demi Bangsa selama ini?"
Katanya: "Baik. Belajar untuk negeri, memberi pada negara, dan membangun bangsa dengan membayar pajak."

Sederhana, memang. Tapi benar. Ya, aku membayar pajak. Ya, aku kuliah setiap Senin-Jumat, itu termasuk poin pertama kan?
Tapi dasar pikiranku yang serba "tidak puas" kembali berpikir liar: kita bisa berbuat lebih! Ya, kita selalu bisa berbuat lebih!

Aku selalu mencoba untuk menanamkan keyakinan dalam diriku sendiri bahwa setiap orang terlahir untuk berbuat besar. Setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Satu per satu terlahir dengan kesempatan, tapi sekarang adalah pilihan manusia untuk menjadi apa yang diinginkannya.

Adam, teman SMA ku, memilih berprestasi di bidang Fisika, melesat sebegitu tingginya membawa nama bangsa ke ajang olimpiade fisika dunia.

Dea, teman kuliahku, memilih tapak menghadirkan warna Bali di ajang Putri Indonesia, dan membawa segarnya Indonesia ke ajang dunia.

Sekian banyak oemuda yang bergabung di SAR, pergi ke tempat yang sama sekali asing bagi mereka, menyelamatkan ratusan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.


Astaga, begitu banyak sebenarnya yang lebih pantas untuk dibanggakan, seperti mereka, bukannya menggalang massa dan berbuat rusuh, bukan??

Tawuran, unjuk rasa, aksi sembelih kambing, semua dengan dalih memperingati hari Sumpah Pemuda,, kira-kira kalau Pemuda pada tahun 1928 itu menyaksikan semua yang terjadi sekarang, menyaksikan bagaimana peringatan perjuangan mereka dirayakan, apa yang akan mereka pikirkan ya..??

Aku hanya seorang mahasiswa tanggung. Bidang pendidikan dan profesiku sebatas di bidang kesehatan. Aku bukan ahli sosiologi, bukan ahli sejarah, bukan ahli politik ataupun humaniora. Intinya, mungkin aku nggak pantas berorasi macam2, menilai tindakan masyarakat tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Tapi sederhana saja, aku mahasiswa yang sedang membangun kepercayaanku sendiri mengenai makna seorang mahasiswa Indonesia. Pelajar, dengan tingkat yang lebih tinggi. Warga negara, dengan tanggung jawab yang bertambah seriring bertambahnya ilmu yang aku dapat.

Ya, aku masih 21 tahun. Ya, aku masih mahasiswa tanggung. Dan Ya, aku belum merasa telah melakukan sesuatu yang bisa kubanggakan.
Tapi Ya, aku menyadari itu. Ya, aku tahu siapa diriku. Ya, aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Dan Ya, aku tahu kemana aku akan melangkah.

Siapapun dirimu,
Dimanapun kamu berada,
Apapun bidang yang kamu tekuni,
Kamu, Kita, punya hak dan kesempatan yang sama untuk berbuat besar.
Kesempatan menjadi mutiara yang indah.
Dan mutiara itu menjadi lebih indah karena ia dirangkai.
Karena kita saling memiliki.

Kita adalah pemuda Indonesia. Kita diajarkan banyak olehnya mengenai pluralitas dan pentingnya sebuah solidaritas. Kita patut berbangga.
Salam.

:)
_didixoxo

You don't have to show your power to make other people know your power. Your power will emerge by itself together with your achievements when using it, and with your attitude in controlling it.
*dii*




didi's.whitechocolate
Kamis, 28 Oktober 2010..
Pagi itu aku terbangun agak kesiangan, dengan televisi yang ternyata masih menyala namun bersuara nyaris hening. Sekadar info, belakangan ini, aku memang beberapa kali memberlakukan kebiasaan (amat sangat) buruk itu, sekadar untuk memecah sedikit kesunyian malam. Karena belakangan ini pula, kesunyian malam justru membuatku takut.

Well, kembali ke pagi itu,, aku terbangun dan mendengar sayup2 di televisi pengucapan sumpah sakral 28 Oktober 2010 di Metro TV. Iklan, memang, tapi kata-kata itu sangat jelas terucap. Kata-kata yang sangat familiar, sejak pertama kali mengenal ikrar Sumpah Pemuda, pada jaman masih berseragam putih-merah dulu.

Benar juga, sudah tiba ternyata peringatan 82 tahun Sumpah Pemuda. Aku sebenarnya sudah jengah akan dekatnya Sumpah Pemuda sejak tanggal 20 Oktober lalu, namun persiapan dan pengerjaan Student Project bertajuk "Onychomycosis" itu sukses mengalihkan nyaris seluruh perhatianku. Syukurlah, hasil SP itu tidak mengecewakan.

Aku menikmati sejenak iklan peringatan Sumpah Pemuda itu sejenak, saat sepersekian detik kemudian akal sehat mengingatkanku bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 06.50 dan aku harus segera bersiap2 untuk kuliah pukul 08.00. Televisi praktis tidak kuindahkan, dan dengan sangat kepupungan bersiap2. Boo nggak suka kalau aku terlambat..

Metro Pagi masih mengiringi persiapanku berangkat kuliah tadi. Segmen kali ini adalah wawancara dengan bintang tamu. Ahh,, rupanya tajuk hari itu adalah "Yang Muda Yang Berkarya". Bintang tamunya pun tidak sembarangan. Tidak semuanya kukenal bahkan dengan nama, tapi melongo aku dibuatnya saat mengetahui sepak terjang mereka.
Ada yang menjadi ketua tim pendakian ke tujuh puncak tertinggi di dunia untuk mengibarkan bendera Merah-Putih, 7Summit..
Ada perwakilan PLN yang menyampaikan program pemasangan saluran-saluran listrik baru se-Indonesia..

Di hari sebelumnya, saat Just Alvin kebetulan bisa kukejar tayangnya, muncul sejumlah tokoh ternama perwakilan Indonesia. Rieke Dyah Pitaloka, anggota DPR, bicara tentang posisinya dan bagaimana lika-liku kerjanya sebagai wakil rakyat dan sebagai penyalur buku-buku ke pelosok-pelosok Indonesia. Glenn Fredly, penyanyi favoritku (^^), bicara tentang makna lebih dari sebuah badge garuda yang disematkan di pakaiannya. Ada pula seorang tokoh lain (lupa namanya! T_T), wanita mantan penyiar berita di Metro TV yang kini menjadi anggota DPRD Jakarta.

Kelebatan2 prestasi mereka entah bagaimana mengusik pikiranku selama bersiap2 tadi pagi itu. Satu seruan yang menggelikan dan pilu: "Astaga, aku sudah 21 tahun, dan aku belum bisa melakukan sesuatu yang membanggakan!"


"Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu,
Tanah Air Indonesia..
Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu,
Bangsa Indonesia..
Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan,
Bahasa Indonesia.."
Kata2nya maut ya..
Siapa sangka, putusan kongres pertemuan kelompok-kelompok pemuda daerah memutuskan sebuah bait yang maknanya begitu kuat.
Kalau aku mengingat headline di berita-berita nasional pada tanggal 20 Oktober lalu, mengenai demonstrasi besar-besaran mahasiswa terhadap 1 tahun bergulirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, rasanya miris banget melihat sikap para demonstran tersebut. Rusuh. Hanya itu kata yang terpikir olehku.

Tanpa bermaksud menyudutkan siapapun yang menjadi aktivis demonstran tersebut, mau tidak mau aku terpikir kenapa mereka sedemikian antusias menggelar aksi-aksi semacam itu. Jika ada yang mengajakku berdemonstrasi pada hari itu, aku sudah pasti menolak dengan sopan dengan alasan harus membuat tugas kampus (dan itu benar, SP!!). Di 15 kota besar di Indonesia (termasuk Denpasar katanya), mahasiswa menggelar unjuk rasa menuntut ini, itu, turunkan ini, itu, menuntut lengsernya si ini, si itu. Mereka bicara kemisikinan, penegakan hukum yang gagal total, stabilitas ekonomi yang sama sekali tidak stabil, penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang tidak kunjung selesai, dan segala macam lainnya.

Hmm,, kalau seperti itu yang menjadi tajuk mereka, aku pasti tidak bisa ikut. Kemiskinan? Dengan segala kerendahan hati, pantaskah aku bicara kemiskinan jika kemiskinan yang sebenarnya itu belum pernah kekecap..?
Penegakan hukum? Apa mampuku bicara hukum jika dasar-dasar hukum itu sendiri bukan dasar pendidikanku?
Stabilitas ekonomi? Latar belakangku selama tiga tahun ini adalah kedokteran dan kesehatan..
Pelanggaran HAM??? Posisiku tidak pantas bicara tentang HAM. Aku tidak pernah bisa mengerti perasaan para korban pelanggaran HAM.
Tapi mereka tampak menggebu-gebu sekali.
Bagai merasakan sendiri semua yang mereka ucapkan itu.
Sungguhkah..?

Kalau seperti ini tingkah polah tipikal kami, Pemuda-pemudi masa kini, masihkah pantas kami bicara tentang Sumpah Pemuda??
Terprovokasi hanya dengan sentilan semu..
Tercemari hanya karena menangkap dengan satu-dua indra saja, tanpa melibatkan akal dan rasa..
Terlukai oleh sesama..

Kembali ke pernyataan pilu yang berngiang-ngiang pagi itu, aku menuliskan satu status singkat di jejaring FB, dan mendapat respon dari seorang teman jauh.
Kataku: "Halo Pemuda.. Apa kabarmu hari ini? Apa yang sdh kamu perbuat demi Bangsa selama ini?"
Katanya: "Baik. Belajar untuk negeri, memberi pada negara, dan membangun bangsa dengan membayar pajak."

Sederhana, memang. Tapi benar. Ya, aku membayar pajak. Ya, aku kuliah setiap Senin-Jumat, itu termasuk poin pertama kan?
Tapi dasar pikiranku yang serba "tidak puas" kembali berpikir liar: kita bisa berbuat lebih! Ya, kita selalu bisa berbuat lebih!

Aku selalu mencoba untuk menanamkan keyakinan dalam diriku sendiri bahwa setiap orang terlahir untuk berbuat besar. Setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Satu per satu terlahir dengan kesempatan, tapi sekarang adalah pilihan manusia untuk menjadi apa yang diinginkannya.

Adam, teman SMA ku, memilih berprestasi di bidang Fisika, melesat sebegitu tingginya membawa nama bangsa ke ajang olimpiade fisika dunia.

Dea, teman kuliahku, memilih tapak menghadirkan warna Bali di ajang Putri Indonesia, dan membawa segarnya Indonesia ke ajang dunia.

Sekian banyak oemuda yang bergabung di SAR, pergi ke tempat yang sama sekali asing bagi mereka, menyelamatkan ratusan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.


Astaga, begitu banyak sebenarnya yang lebih pantas untuk dibanggakan, seperti mereka, bukannya menggalang massa dan berbuat rusuh, bukan??

Tawuran, unjuk rasa, aksi sembelih kambing, semua dengan dalih memperingati hari Sumpah Pemuda,, kira-kira kalau Pemuda pada tahun 1928 itu menyaksikan semua yang terjadi sekarang, menyaksikan bagaimana peringatan perjuangan mereka dirayakan, apa yang akan mereka pikirkan ya..??

Aku hanya seorang mahasiswa tanggung. Bidang pendidikan dan profesiku sebatas di bidang kesehatan. Aku bukan ahli sosiologi, bukan ahli sejarah, bukan ahli politik ataupun humaniora. Intinya, mungkin aku nggak pantas berorasi macam2, menilai tindakan masyarakat tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Tapi sederhana saja, aku mahasiswa yang sedang membangun kepercayaanku sendiri mengenai makna seorang mahasiswa Indonesia. Pelajar, dengan tingkat yang lebih tinggi. Warga negara, dengan tanggung jawab yang bertambah seriring bertambahnya ilmu yang aku dapat.

Ya, aku masih 21 tahun. Ya, aku masih mahasiswa tanggung. Dan Ya, aku belum merasa telah melakukan sesuatu yang bisa kubanggakan.
Tapi Ya, aku menyadari itu. Ya, aku tahu siapa diriku. Ya, aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Dan Ya, aku tahu kemana aku akan melangkah.

Siapapun dirimu,
Dimanapun kamu berada,
Apapun bidang yang kamu tekuni,
Kamu, Kita, punya hak dan kesempatan yang sama untuk berbuat besar.
Kesempatan menjadi mutiara yang indah.
Dan mutiara itu menjadi lebih indah karena ia dirangkai.
Karena kita saling memiliki.

Kita adalah pemuda Indonesia. Kita diajarkan banyak olehnya mengenai pluralitas dan pentingnya sebuah solidaritas. Kita patut berbangga.
Salam.

:)
_didixoxo

You don't have to show your power to make other people know your power. Your power will emerge by itself together with your achievements when using it, and with your attitude in controlling it.
*dii*




didi's.whitechocolate
Dear Blog,,

Udah gila-gilaan lamanya aq nggak coret-coret disini lagi ya. Padahal sbenerny smpet banget pengen nulis, tapi saat itu akses ke peradaban dunia maya bener2 nun jauh disana, smentara aku sedang menunaikan kewajiban suci Kerja Sosial Kesehatan di Dusun Kelodan, Desa Madenan, Kecamatan Tejakula, Buleleng (seriously, i'v got lots and lots to share about this, but I think next time is better)..

*this explains much how i am such a bad (!!) writer.. -.-!

Anyways, tadi tumben2nya aku sengaja nonton Bapak Mario Teguh dalam acara fenomenalnya "Golden Ways", edisi hari ini (24 October 2010). Temanya bikin cukup tertarik sieh: Falling In and Out of Love..
Hmm,, when people talk bout love, it's true that they more often speak of falling in love, rather than falling out of love. It's quite funny don't u think, considering that falling out of love is a serious condition which requires prompt treatment in order to prevent any complications (why do I all of a sudden sound like some love doctor??)

Mengingat jatuh cinta adalah pengalaman yang sangat personal, aku sedikit banyak tersentil dengan definisi "jatuh cinta" menurut Mario Teguh. Kata-katanya mengalir begitu cepat tadiny, sampe2 aku nggak sempat menangkap isi semua. Tapi poin-poin yang berhasil aku tangkap: tidak logis, tidak rasional, tapi membuat kita tertarik.

Yah,, kalo udah bicara soal cinta, apa sih yang logis??
=P
=P

Sepakat lagi dengan Pak Mario Teguh, adalah saat beliau menyebutkan adanya spark, atau letupan-letupan, di dalam dada saat sedang jatuh cinta. Ayolah,, siapapun pasti akan setuju dengan itu. ^__^

Lalu bagaimana dengan "cinta" versus "sayang"??
Menariknya, kedua kata tersebut memiliki terjemahan dalam bahasa Inggris yang (seringkali) sama, yaitu love. Entah bagaimana orang Inggris mengartikan kata love itu, tapi aku rasa kita sepakat kedua kata tersebut memiliki pengertian dan makna yang brbeda. Okelah, "cinta" bisa kita pakai ke kekasih, dan "sayang" kita pakai ke keluarga ataw sahabat2. But there has to be something more than that!

Motivator super itu (baca dengan gayanya yang khas: shyuper!) memaknai "sayang" sebagai penguat "cinta". Jika "cinta" adalah letupan-letupan atau spark yang muncul dan terasa menggebu-gebu itu, maka "sayang" adalah yang mempertahankan perasaan sumringah akibat spark yang muncul. Jika "cinta" mampu bertahan hingga 6 bulan saja, maka "sayang"lah yang mempertahankan hingga bertahun-tahun lamanya.

Come to think of it, kenapa nggak sekalian ada yang bilang "jatuh sayang" aja, jika "sayang" itu memang lebih kuat daripada "cinta"??
Hmm,,

"Anak-anakku yang sedang jatuh cinta, berpikirlah! Waspadalah.." -mario teguh-

Aku nggak tahu kenapa, kutipan di atas serasa menohok sekalee ...
Ah, tapi aku rasa aku tetap berpikir walaupun jatuh cinta, ahhaayyy ... :P

Aku ngajak Boo janjian nonton Golden Ways edisi ini (tapi nontonnya di rumah masing-masing laahh, hehe),, tapi jadinya malu sendiri coz bahasan tadi kebanyakan untuk insan-insan shyuper yang sudah menikah dan berkeluarga..( _ _")

Psst,, satu lagu cinta yang paling mengena (ya, mengena = menohok !!) buatku adalah "If I Were A Boy" nyanyian Beyonce ft. R.Kelly tu. Sumpahh,, lagu ini seolah-olah "merakyat" banget, nggak seperti lagu fallin in loph lain yang cenderung berandai-andai, bernada alay, dkk dsb..
Seriously, u've GOT to listen to it and have a go on ur iPod!!!

I have two best parts in this song, the part R.Kelly sings:

*Fave no.1*
If you were a boy,
Then, Girl, you'd understand..
You gotta stop listening to your friends,
Love, respect, and trust your man ...

*Fave no.2*
But you're not a boy..
So you can't understand..
You are not a perfect woman,
And I am not a perfect man ...

Neither of us are perfect; if so, we wouldn't be human after all!!
It is all the imperfection that makes us human, that makes us humane ...
:)

Kutipan menarik lain dari acara tadi adalah mengenai mentargetkan calon pasangan yang layak.
Bukan seperti itu caranya. Tidaklah dengan kita menargetkan seseorang yang hebat, tapi kita menargetkan diri kita sendiri agar layak didekati oleh seseorang yang hebat..

^^


*corat-coret kali ini hanya sedikit dari banyak sekali topik tentang cinta yang berkelebat ingin dikeluarkan dari pikiranku dan bersemayam di blog ini. Sepertinya harus ada yang memasukkan topik tentang "cinta" ini lebih sering..

Intinya, bagaimanapun "love" itu menorehkan bekas di hati kita, entah baik ataupun buruk, jadikan torehan itu pelajaran..
Untuk lebih mencintai pasangannya, bagi yang sudah memiliki kekasih..
Untuk mencari yang terbaik, bagi yang sedang dalam misi pencarian..
Dan untuk hidup yang lebih bermakna, bagi siapapun yang menjadikan "love" satu keutuhan dalam dirinya..


Regards,,
_didixoxo


NOTE:

Loving you,
Is not what I see but what I feel ...
Is not how I forget but how I forgive ...
Is not how I listen but how I understand ...
And not how I let go but how I hold on ...
didi's.whitechocolate



Do you believe that, at least once in your life, you may encounter an experience with an angel?
I just had that experien
ce. It was with an angel in the form of a little four-legged animal.

It was a hot afternoon at Denpasar, and I went back home fast to catch some break before attending a routine coordination meeting with all the chairmans of students' organization at Med School.

Once returned, i decided to park my lovely Jupie near the main building, just in case i might go back home late. it was a little surprising for me to see a small dog at the students' parking lot near the students' center. It was small and far way from healthy: sparse, dirty white fur, skinny, and a bit limpy. From the looks of it, it definitely had nothing to make people attracted. It was laying down on the pavings, near the parking entrance, close to some of my juniors who were chatting and also seem to take no notice of that dog.

I made several "click" sounds, and it responded weakly. But time was ticking, and I rushed myself upstairs to the meeting room. The last vision of that dog was when I saw it moving its head to another position and lay again; that vision, and the memory of the dog, disappeared as I attended the meeting and chatted with some friends.

A couple of hours later, I excused myself from the committee and returned to the parking lot. My gum was aching and it felt so unpleasant, all I wanted to do was grab a piece of banana for dinner (that gum made me difficult to eat normally). I remembered then that Jupie's tires were somewhat a bit flat, so I planned to find a mechanic to add in some gas into both tires. It so happened that I still had Rp 3.000,00 in my pocket (excluding one Rp 50.000,00 in my wallet -- it is very not efficient to pay a mechanic with Rp 50.000,00 for adding gas on tires), so I was so determined to give away Rp 2.000,00 for Jupie.

And then I met that dog again. This time the parking lot was emptier than before, with few motorbikes still parking and no more people hanging around that place. As I took a closer look at the dog, I realized that it was not only ugly, it was also smelly. I also noticed that the dog was actually a male puppy, a young smelly little fellow. I never seen that puppy before, and I became a little flattered as he responded again to my "click" sounds. This time, I saw his long tail wagging excitedly.

He then moved to the side porch of the eastern building, which was facing directly to the western building, our main building in the faculty. He laid on one side, then perhaps felt reluctant and moved to the other side. His head landed lazily on the white tiles of the porch floor. I was ready with my helmet already, when I then had the idea to take a picture of him, just one fast shot from my camera phone. He didn't reacted. The last thing I thought about the puppy was a wish so he lives well.

I hopped on Jupie with only one destination: the mechanic.

But the evening traffic was unpleasant. Right before a red light, a typical MPV rushed to the left, to my way, and made me push the breaks to move slower. I didn't get to pass the green lights; it turned yellow very fast and then red. Thanks to that MPV, I had to wait for several seconds with an aching gum, rumbling stomach, and slightly flat tires. And don't mention the so-many basic neuroscience materials that I haven't covered yet.

What I didn't understand was, within a fraction of second, the vision of that puppy came up again. Then an idea of finding him some food followed, within another fraction of second. I didn't get to approve to my new idea of feeding him, but the next thing I knew, the traffic lights turned green, and I was steering Jupie towards a cheap food stall, instead of a mechanic. By the time I got to that food stall, some percent of my logics were still asking myself: why am I doing this? I only got Rp 3.000,00 in my pocket which I must use to fill some gas, but why bother buying food for that stray dog??

Still, I did buy a small portion of food. I asked the seller for half portion of rice, with some chicken and liver satay, and some noodle. Thinking that I must mix all of them, I remembered that there was a water tap near that parking lot, so I didn't mind making my hand dirty with food.

I hoped so much that that puppy would still be in that porch, laying down with nothing to do.

And he still was! I parked Jupie at the same place before, put off my helmet, and opened the food which was wrapped in paper. But my logics did managed to remind me to take my wristwatch off before proceeding to the main course.

As I mixed the rice with the chicken and liver, I noticed that the puppy was looking at me. He probably smelled the sense of food. Once again, I made "clicking" sounds to call him -- I couldn't possibly just put his meal at where I laid down, for it may make the porch dirty. He reacted by walking nearer to me, slowly, probably seemed curious what this girl is doing, or going to do.

I bent down and put the rice, now mixed with the meat, on the pavings. He came closer and closer, still being alert of any small movements that I made. Then, he circled around me and the food, then walked closer towards it. My right hand was still on an attempt to mix the rice, but he didn't seem to be anymore patient; he ate it, and didn't took long to finish the whole portion. I thought that perhaps I shouldn't have asked for half portion of rice.

I looked at that fellow as he ate. He size was probably the same with my own dog, Rolly, except for this one was so so skinny (very different from Rolly who was quite "filled"). His smell became more prominent since I stayed quite close to him. He became so busy with this food, he didn't notice my hand still trying to make sure the rice can mix well with the liver. The tail still wagging, this time harder than before. But my logics, again, reminded me not to stroke that animal. After all, it was a stray animal, with no known records of illness.

The more I look at that puppy, the more I realize that it definitely IS unhealthy, and perhaps the food he ate wouldn't do much to himself, or his body. It hurt a little for me when I thought of how he would live. With that radiant puppy face, and lively tail, there should be something to be done to him.

He licked the paper, as if making sure no flavor tracks are left on it. He followed me as I tried to throw away the remaining paper, but after seeing his eager eyes, I gave up by giving back his paper, which he bit cheerfully. He also bit on the satay stick for fun. I noticed him following me as I washed my hand on the water tap, and followed me back to the parking lot, where I was ready bring Jupie back home.

I put my helmet again, this time watching that puppy "playing" with a bug, hoping that the food he just ate would at least help him sleep better for this night. I don't know whether he will still be around that same place tomorrow. It was even hard for me to guess whether he will be better tomorrow, but it was in his eyes that I saw a life. He was so attracted to that bug, playing in a way a typical cheerful puppy would be playing, he didn't seem to see me leaving. For a moment I forgot about getting gas for Jupie's tires -- I realized it once I parked it back at home.

He was a stray young dog, but with a radiant face and lively tail, a good appetite, and responsive reaction. I imagined him being healthy with clean white fur and well-shaped body. I was surprised to realize that I did feel glad to myself after spending some money for getting him dinner. Strange, awkward, but true. I did feel glad for being able to do something useful for him, althought it was merely just preparing dinner.

He was just a dog, but somehow he showed me the importance of our presence for others, whoever they ar. Doing good is always pleasant, whatever the form may be.

And that evening, I did it to a stranger, a small puppy I call Angel.


didi's.whitechocolate
Namaku Didi,, dan aku sedang (sangat2) puyeng...
@___@

Dearest all..

Pernahkah merasa dijejali begitu banyak materi pelajaran dalam waktu sehari dikali empat..?

Biasanya orang-orang heran kenapa bisa seorang mahasiswa Med School bertahan sebagai mahasiswa Med School. Kalau ada yang brtanya sperti itu padaku,, biasanya hanya sebatas kuluman senyum dan jawaban klasik, "Yah,, kita jalani aja sebaik-baiknya.." yang keluar. Dan memang sebatas itu jawaban yang bisa kuberi. Selama ini, memang, hari-hariku sebagai Med Student senantiasa kucoba lalui dengan "sebaik-baiknya".
Lalu kemudian tiba saatnya berkenalan dengan blok kedua di semester VI: Neuroscience and Neurological Disorders. Perkenalan ini pun akhirnya mengubah pandanganku tentang apa yang (nyaris) selalu kupercaya. Dan aku pun bertanya dalam hati, "Bagaimana caranya bisa bertahan dengan materi seperti ini...?"

T__T

"Novel biru" berjudul Neuroanatomia Medica sudah menemani 3 hari terakhirku ini. Hari demi hari adaa aja tambahan guratan warna-warni Penciltic menghiasi kata-kata dan istilah penting di buku wajib pelajaran neuroanatomia itu. Jumlah halamannya sebanyak 367, dan besok (iya besok, hari keempat blok ini) adalah hari terakhir memakai buku itu sebagai referensi tutorial, sebelum lanjut ke materi dasar lainnya: histologi dan fisiologi. Tapi sampai sekarang yang nyantol di otak cuma nama-nama ke12 pasang saraf kranial..huhuhu..

Emphasis: cuma nama-nama kedua belas saraf kranial. Masing-masing saraf mempunyai ciri-ciri tersendiri, tapi yang itu masih sangat-sangat jauh dari "di luar kepala"..

Ayo sebutkan!
CN I : olfactory nerve
CN II : optic nerve
CN III : occulomotor nerve
CN IV : trochlear nerve
CN V : trigeminal nerve
CN VI : abducens nerve
CN VII: facial nerve
CN VIII: vestibulocochlear nerve (once called accoustic nerve)
CN IX : glossopharyngeal nerve
CN X : vagal nerve
CN XI : accesory nerve
CN XII: hypoglossal nerve

Hahayy,, aku hafall !!
Sesungguhnya aku mendapat "pencerahan" berupa satu "jembatan keledai" untuk menghafalkan urutan dua belas cranial nerve ini (coz dosen udah mewanti-wanti jangan sampai ketuker nomor dan namany). Incredibly,, jembatan keledai itu kudapat di halaman 158 novel Doctors karangan Erich Segal. Sebenarnya cukup lucu dan, mungkin juga, konyol, tapi lebih baik tidak kusebutkan di blog ini. kalimatnya bisa menimbulkan kehebohan karena menyinggung satu aspek tertentu yang sebenarnya tidak diperkenankan untuk disinggung di blog, atau situs pertemanan apapun.
Jadi buat yang pengen tau, silakan mencari sendiri di novel tsb :P

Duhh,, semakin ngelantur tulisanku..

=.=a

Intinya adalah,, tiga hari belajar tentang otak manusia dan tetangga-tetangga dekatnya, dengan tempo belajar yang high-beat dan istilah-istilah berikut gambar neuroanatomi yang masih terbilang asing di mata dan telinga benar-benar membuat kepala serasa semakin berat. Satu bonggol benda seperti jelly di kepala ini bisa memiliki struktur yang mahakompleks. Dan lebih dari itu, benda bonggol seperti jelly itu tak lain dan tak bukan adalah pusat dari segala pusat tubuh manusia! Jantung berdenyut dengan irama lub-dub nya yang sangat khas, pusat pengendaliannya di otak. Nafas yang bahkan tidak kita sadari kita lakukan, pusat pengendaliannya di otak. Perasaan marah, cinta, senang, pusatnya di otak. Mekanisme yang mendasari ini semua pun tidak lagi dikenal sebagai "impuls ke reseptor --> saraf pusat --> efektor", sebagaimana yang kita pelajari di mata pelajaran Biologi waktu jaman SMA dulu.
Ini lebih kompleks. Jauh-jauh lebih kompleks.



Dan sekarang baru hari ketiga, tapi aku sudah puyeng..X__X

Well,, setidaknya satu teman sekelasku, Ugi, berkata menghibur, "Gak papa Dii,, kalau pusing artinya kita memang benar punya otak. Ini pembuktian kalau kita punya otak!"
hahahaha....

Cukup lama absen posting di blog ini membuatku merasa ada begitu banyak yang ingin kutulis.. Selama ini udah banyak banget yang berlangsung, tapi tekanan ujian blok musculoskeletal system yang berakhir tanggal 16 April lalu sukses menyedot perhatianku sepenuhnya.
Yappzz,, muskuloskeletal system ini blok yang berat. Berat materinya, berat bukunya. Menghafal nama-nama tulang dan otot, beserta tendon, ligamen, sifat histologisnya, proses fisiologisnya, tampilan patologisnya, dan tumpukan-tumpukan korelasi klinisnya cukup membuat frustasi. Tapi sekarang setelah bertemu Neuro, rasanya jadi "kangen" ama muskulo (ini pengakuan beberapa orang lhoo, bukan aku aja).

Emmm,, tapi kangennya bukan berarti pengen mengulang materi itu di akhir semester ini sie...
*Jik piiiiinnggg..

Anyways,, no pain no gain. Masih harus banyak belajar, Didii.. Selalu ingat kata kuncinya: DISCIPLINE !
Semangat2 ^^

*yawn*

Huwaa,, bed time now. Time to go to sleep. Besok mesti bangun pagi-pagi,, mau nge-date lagi sama novel biru tersayang..
Astungkara..
^_^
Diberdayakan oleh Blogger.

didi.xoxo.didi.xoxo

didi.xoxo.didi.xoxo
the most handsome dog in the world! \(^o^)/