Prologue

Foto saya
Denpasar, Bali, Indonesia
..simple.. ..casual.. ..lilbittomboy.. ..stubborn.. ..caring.. ..sensitive.. ..love'sreading.. ..enjoy'ssightseeing.. ..like's shopping.. :)

Pengikut

didi's.whitechocolate
Kamis, 28 Oktober 2010..
Pagi itu aku terbangun agak kesiangan, dengan televisi yang ternyata masih menyala namun bersuara nyaris hening. Sekadar info, belakangan ini, aku memang beberapa kali memberlakukan kebiasaan (amat sangat) buruk itu, sekadar untuk memecah sedikit kesunyian malam. Karena belakangan ini pula, kesunyian malam justru membuatku takut.

Well, kembali ke pagi itu,, aku terbangun dan mendengar sayup2 di televisi pengucapan sumpah sakral 28 Oktober 2010 di Metro TV. Iklan, memang, tapi kata-kata itu sangat jelas terucap. Kata-kata yang sangat familiar, sejak pertama kali mengenal ikrar Sumpah Pemuda, pada jaman masih berseragam putih-merah dulu.

Benar juga, sudah tiba ternyata peringatan 82 tahun Sumpah Pemuda. Aku sebenarnya sudah jengah akan dekatnya Sumpah Pemuda sejak tanggal 20 Oktober lalu, namun persiapan dan pengerjaan Student Project bertajuk "Onychomycosis" itu sukses mengalihkan nyaris seluruh perhatianku. Syukurlah, hasil SP itu tidak mengecewakan.

Aku menikmati sejenak iklan peringatan Sumpah Pemuda itu sejenak, saat sepersekian detik kemudian akal sehat mengingatkanku bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 06.50 dan aku harus segera bersiap2 untuk kuliah pukul 08.00. Televisi praktis tidak kuindahkan, dan dengan sangat kepupungan bersiap2. Boo nggak suka kalau aku terlambat..

Metro Pagi masih mengiringi persiapanku berangkat kuliah tadi. Segmen kali ini adalah wawancara dengan bintang tamu. Ahh,, rupanya tajuk hari itu adalah "Yang Muda Yang Berkarya". Bintang tamunya pun tidak sembarangan. Tidak semuanya kukenal bahkan dengan nama, tapi melongo aku dibuatnya saat mengetahui sepak terjang mereka.
Ada yang menjadi ketua tim pendakian ke tujuh puncak tertinggi di dunia untuk mengibarkan bendera Merah-Putih, 7Summit..
Ada perwakilan PLN yang menyampaikan program pemasangan saluran-saluran listrik baru se-Indonesia..

Di hari sebelumnya, saat Just Alvin kebetulan bisa kukejar tayangnya, muncul sejumlah tokoh ternama perwakilan Indonesia. Rieke Dyah Pitaloka, anggota DPR, bicara tentang posisinya dan bagaimana lika-liku kerjanya sebagai wakil rakyat dan sebagai penyalur buku-buku ke pelosok-pelosok Indonesia. Glenn Fredly, penyanyi favoritku (^^), bicara tentang makna lebih dari sebuah badge garuda yang disematkan di pakaiannya. Ada pula seorang tokoh lain (lupa namanya! T_T), wanita mantan penyiar berita di Metro TV yang kini menjadi anggota DPRD Jakarta.

Kelebatan2 prestasi mereka entah bagaimana mengusik pikiranku selama bersiap2 tadi pagi itu. Satu seruan yang menggelikan dan pilu: "Astaga, aku sudah 21 tahun, dan aku belum bisa melakukan sesuatu yang membanggakan!"


"Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu,
Tanah Air Indonesia..
Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu,
Bangsa Indonesia..
Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan,
Bahasa Indonesia.."
Kata2nya maut ya..
Siapa sangka, putusan kongres pertemuan kelompok-kelompok pemuda daerah memutuskan sebuah bait yang maknanya begitu kuat.
Kalau aku mengingat headline di berita-berita nasional pada tanggal 20 Oktober lalu, mengenai demonstrasi besar-besaran mahasiswa terhadap 1 tahun bergulirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, rasanya miris banget melihat sikap para demonstran tersebut. Rusuh. Hanya itu kata yang terpikir olehku.

Tanpa bermaksud menyudutkan siapapun yang menjadi aktivis demonstran tersebut, mau tidak mau aku terpikir kenapa mereka sedemikian antusias menggelar aksi-aksi semacam itu. Jika ada yang mengajakku berdemonstrasi pada hari itu, aku sudah pasti menolak dengan sopan dengan alasan harus membuat tugas kampus (dan itu benar, SP!!). Di 15 kota besar di Indonesia (termasuk Denpasar katanya), mahasiswa menggelar unjuk rasa menuntut ini, itu, turunkan ini, itu, menuntut lengsernya si ini, si itu. Mereka bicara kemisikinan, penegakan hukum yang gagal total, stabilitas ekonomi yang sama sekali tidak stabil, penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang tidak kunjung selesai, dan segala macam lainnya.

Hmm,, kalau seperti itu yang menjadi tajuk mereka, aku pasti tidak bisa ikut. Kemiskinan? Dengan segala kerendahan hati, pantaskah aku bicara kemiskinan jika kemiskinan yang sebenarnya itu belum pernah kekecap..?
Penegakan hukum? Apa mampuku bicara hukum jika dasar-dasar hukum itu sendiri bukan dasar pendidikanku?
Stabilitas ekonomi? Latar belakangku selama tiga tahun ini adalah kedokteran dan kesehatan..
Pelanggaran HAM??? Posisiku tidak pantas bicara tentang HAM. Aku tidak pernah bisa mengerti perasaan para korban pelanggaran HAM.
Tapi mereka tampak menggebu-gebu sekali.
Bagai merasakan sendiri semua yang mereka ucapkan itu.
Sungguhkah..?

Kalau seperti ini tingkah polah tipikal kami, Pemuda-pemudi masa kini, masihkah pantas kami bicara tentang Sumpah Pemuda??
Terprovokasi hanya dengan sentilan semu..
Tercemari hanya karena menangkap dengan satu-dua indra saja, tanpa melibatkan akal dan rasa..
Terlukai oleh sesama..

Kembali ke pernyataan pilu yang berngiang-ngiang pagi itu, aku menuliskan satu status singkat di jejaring FB, dan mendapat respon dari seorang teman jauh.
Kataku: "Halo Pemuda.. Apa kabarmu hari ini? Apa yang sdh kamu perbuat demi Bangsa selama ini?"
Katanya: "Baik. Belajar untuk negeri, memberi pada negara, dan membangun bangsa dengan membayar pajak."

Sederhana, memang. Tapi benar. Ya, aku membayar pajak. Ya, aku kuliah setiap Senin-Jumat, itu termasuk poin pertama kan?
Tapi dasar pikiranku yang serba "tidak puas" kembali berpikir liar: kita bisa berbuat lebih! Ya, kita selalu bisa berbuat lebih!

Aku selalu mencoba untuk menanamkan keyakinan dalam diriku sendiri bahwa setiap orang terlahir untuk berbuat besar. Setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Satu per satu terlahir dengan kesempatan, tapi sekarang adalah pilihan manusia untuk menjadi apa yang diinginkannya.

Adam, teman SMA ku, memilih berprestasi di bidang Fisika, melesat sebegitu tingginya membawa nama bangsa ke ajang olimpiade fisika dunia.

Dea, teman kuliahku, memilih tapak menghadirkan warna Bali di ajang Putri Indonesia, dan membawa segarnya Indonesia ke ajang dunia.

Sekian banyak oemuda yang bergabung di SAR, pergi ke tempat yang sama sekali asing bagi mereka, menyelamatkan ratusan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.


Astaga, begitu banyak sebenarnya yang lebih pantas untuk dibanggakan, seperti mereka, bukannya menggalang massa dan berbuat rusuh, bukan??

Tawuran, unjuk rasa, aksi sembelih kambing, semua dengan dalih memperingati hari Sumpah Pemuda,, kira-kira kalau Pemuda pada tahun 1928 itu menyaksikan semua yang terjadi sekarang, menyaksikan bagaimana peringatan perjuangan mereka dirayakan, apa yang akan mereka pikirkan ya..??

Aku hanya seorang mahasiswa tanggung. Bidang pendidikan dan profesiku sebatas di bidang kesehatan. Aku bukan ahli sosiologi, bukan ahli sejarah, bukan ahli politik ataupun humaniora. Intinya, mungkin aku nggak pantas berorasi macam2, menilai tindakan masyarakat tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Tapi sederhana saja, aku mahasiswa yang sedang membangun kepercayaanku sendiri mengenai makna seorang mahasiswa Indonesia. Pelajar, dengan tingkat yang lebih tinggi. Warga negara, dengan tanggung jawab yang bertambah seriring bertambahnya ilmu yang aku dapat.

Ya, aku masih 21 tahun. Ya, aku masih mahasiswa tanggung. Dan Ya, aku belum merasa telah melakukan sesuatu yang bisa kubanggakan.
Tapi Ya, aku menyadari itu. Ya, aku tahu siapa diriku. Ya, aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Dan Ya, aku tahu kemana aku akan melangkah.

Siapapun dirimu,
Dimanapun kamu berada,
Apapun bidang yang kamu tekuni,
Kamu, Kita, punya hak dan kesempatan yang sama untuk berbuat besar.
Kesempatan menjadi mutiara yang indah.
Dan mutiara itu menjadi lebih indah karena ia dirangkai.
Karena kita saling memiliki.

Kita adalah pemuda Indonesia. Kita diajarkan banyak olehnya mengenai pluralitas dan pentingnya sebuah solidaritas. Kita patut berbangga.
Salam.

:)
_didixoxo

You don't have to show your power to make other people know your power. Your power will emerge by itself together with your achievements when using it, and with your attitude in controlling it.
*dii*




0 Responses

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

didi.xoxo.didi.xoxo

didi.xoxo.didi.xoxo
the most handsome dog in the world! \(^o^)/